Malu diri ini selalu meminta dalam setiap teriiring do’a sementara hamba ini sering lalai kepada mu ya Allah………………………….
Baca
sungguh kehidupan tidak ada yang akan menduga dan mengetahui kejadian setiap harinya, belajar tidak hanya dengan kita membaca dan duduk dibangku sekolah, belajar sesungguhnya ada dengan apa yang kita hadapi di depan kehidupan kita. tidak bisa kita mengatakan seseorang yang pendidikanya hanya sebatas SD atapun tingkat pendidikanya lebih rendah dari kita lalu kita mengatakan mereka tidak lebih baik dari kita, hari ini saya di ajari tentang arti itu, pesan yang di sampaikan pada saya ” Biar kita bodoh tapi banyak membaca buku ” saya coba untuk menelaah apa maksud beliau mengatkan itu, lalu saya bertanya dan berdiskusi kepada beliau, beliau bercerita ” saya ini hanya lulusan SMP, anak pertama dari 4 bersaudara, setelah bapak meninggal otomatis saya sudah harus menjadi tulang punggung keluarga pada saat itu kehidupan kami tidak begitu baik dan tidak membaik, saya harus bekerja untuk membantu kehidupan keluarga waktu itu saya begitu terpukul kehilangan orang yang begitu saya sayangi namun kata yang sampai sekarang tetap saya ingat ” Biar kita bodoh tapi banyak membaca buku ” sudah hampir 40 tahun tetap terngiang di hati dan fikiran saya. melewati masa-masa itu tidak gampang dan penuh pengorbanan lembah hitam pernah memayungi saya hampir selama 10 tahun namun tuhan selalu punya rencana untuk hambanya akhirnya dapat keluar dari lembah hitam, setelah saya di berikan seorang pendamping yang setia sampai sekarang. pada saat itu lah keadaan saya mulai berubah dan mencoba untuk mengingat kembali apa yang sudah saya sia-siakan yaitu membaca………………………………..
bersambung…..
Ditulis pada Umum
Maha Pemilik Hidup
Sungguh menanglah, sukseslah,berutunglah orang-orang yang mensucikan dirinya dengan zikir dan sholat kecuali orang-orang yang terperdaya oleh kehidupan dunia lalu ia lalai dari zikir kepadanya subahanallah.
orang orang beriman hidupnya tidak untuk hidup tapi hidupnya untuk maha hidup hidupnya bukan untuk mati tapi justru mati itulah untuk hidup, hidupnya untuk maha hidup dia tidak takut mati, dia tidak cari mati dan dia tidak lupakan mati tapi justru dia rindukan mati mengapa karena mati bukanlah wafat karena mati bukanlah akhir dari kehidupan ini tapi awal dari kehidupan sebenarnya karena mati satu- satunya pintu bertemu dengan Nya, kabahagiaan bagi kekasih saat-saat, detik-detik berjumpa dengan Nya, saat berjumpa itulah kebahagiaan bagi orang-orang yang beriman yang mencintai allah.
Di kutip dari Ustad Arifin Ilham
Ditulis pada Umum
Ayah, Ibu, Anak dan Keluarga

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press
Ayah – Ibu – Anak – Keluarga
1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)
2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda, “Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)
Penjelasan:
Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.
3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)
Keterangan:
Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor. Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….” “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya. Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?” Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?”
Rasulullah bersabda lagi: “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!” Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …” Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.” Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut,
padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakanakan kesejukann bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’ Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).
4. Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Yang dimaksud kufur nikmat dan bukan kufur akidah.
5. Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga diharamkan baginya. (HR. Muslim)
6. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).
7. Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).
8. Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan. (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni).
9. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)
Penjelasan:
Kalau berbakti masuk surga dan kalau bersikap durhaka kepada mereka masuk neraka.
10. Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)
11. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq’alaih)
12. Kedudukan seorang paman sebagai (pengganti) kedudukan ayahnya. (HR. Adarqothani)
13. Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi).
14. Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)
15. Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)
16. Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).
17. Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi).
18. Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)
19. Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. (HR. Ath-Thabrani)
20. Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. (HR. Bukhari)
21. Anak menyebabkan kedua orang tuanya kikir dan penakut. (HR. Ibnu Babawih dan Ibnu ‘Asakir).
22. Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi).
23. Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri (pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR. Muslim)
24. Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah. (HR. Ath-Thahawi).
25. Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa’i)
26. Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikanNya. (HR. Ar-Rabii’).
27. Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
28. Abang yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
29. Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)
30. Rahim adalah cabang dari nama Arrahman (Arrahman Arrahim). Rahim mengucapkan keluhan dan pengaduan: “Ya Robbi, aku telah diputus (hubungan kekeluargaanku), aku telah diperlakukan dengan buruk oleh keluarga dekatku. Ya Robbi, aku telah dizalimi mereka, ya Robbi, ya Robbi.” Lalu Allah menjawab: “Tidakkah kamu ridha Aku menyambung hubunganKu dengan orang yang menghubungimu dan Aku putus hubunganKu dengan orang yang memutus hubungannya dengan kamu. (HR. Bukhari)
31. Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)
33. Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).
32. Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press
Sumber dari : Milis uje_jamaah
Ditulis pada Umum
Ruang hati……
Judul boleh sama tapi silahkan baca………
Sudah menjadi fitrah manusia punya banyak keinginan, saya akan coba mengambil suatu ilustrasi yang menurut saya sederhana :
ketika kita sudah mulai memikirkan tentang masa depan tentu setiap orang akan memiliki rencana namun kadang bingung untuk memulainya perlu kesiapan dalam melakukan suatu rencana jika ingin rencana itu berjalan baik atau berjalan saja tanpa terencana awal yang sebenaranya adalah tujuanya kesuksesan.
keinginan setiap orang berbeda-beda saya coba mengambil contoh sederhana :
pada waktu miskin begitu banyak keinginan yang ingin kita capai namun begitu sudah tercapai selalu ada yang kurang untuk mengisi keinginan di ruang hati, lalu pernahkah kita bertanya bagaimana kita bisa seperti ini setelah meraih semua yang kita inginkan seperti harta yang berlimpah, ketenaran, teman yang banyak, sudah sering keliling dunia, dari istri satu keistri yang lainya, dari punya satu mobil beli lagi mobil, rumah yang mewah, banyak lagi keinginan yang sudah di rasakan. lalu pernahkah ketika kita terbangun bukan itu tujuan sebenarnya yaitu dimana kita dapat menemukan kebahagiaan dari keinginan itu yang lebih berarti dari semua itu, selalu ada ruang kosong dalam hati kita jika dunia yang selalu kejar ” dalam islam tidak mengajarkan hal demikian yang diajarkan raih dunia tapi jangan lupakan akhiratmu ” konsep yang tidak bisa di abaikan yaitu pola kesimbangan sehingga ruang kosong itu dapat kita isi dimana insan dapat melalui bahtera hidup yang lebih dari sekedar hidup temukan tujuan itu dengan jalan bersyukur kepada yang maha diatas segalanya. semoga kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur atas nikmat yang allah.swt berikan. Amin
Wassalam
Ditulis pada Umum
Ironi yang tak kunjung usai…
kejadian-kejadian yang menimpa negeri ini merupakan ironi yang terjadi dan tak kunjung terselesaikan, datang silih berganti dan tak terduga. jika kepetingan yang ingin coba di selamatkan kenapa harus atas nama rakyat dan bersumpah atas nama tuhan ! kadang pertanyaan yang timbul siapa di balik semua ini, mereka tertawa, tersenyum ketika membicarakan penderitaan yang dialami negeri tercinta, lirih hati ini, gundah hati ini, kadang ingin mencerca dan mengunggah kekecewaan di hadapan mereka, sederhana jika berfikir tentang ujung usia adalah kematian maka kembali ke maha pencipta. namun cerita tidak pernah usai yang sudah 1000 tahun pun akan di buka kembali itulah kehidupan yang tidak ada lagi hanya jasad namun yang di torehkanya akan tetapa terarsipkan dalam sebuah tulisan yang nantinya tersirat kembali.
bersambung..
Ditulis pada Umum
Kita bukan tak ….
Damaikanlah, damai dunia sengketa, damaikanlah damailah segera…
sekalimat dari lagu yang dibawakan Group Elpamas era 90 an.
sebuah ironi yang membelenggu dari dulu hingga sekarang, sadar kita coba untuk merenung yang membuahkan tarik ulurnya keadaan. apa bedanya dulu dengan sekarang ketika kerinduan akan damai itu mulai menyelimuti kegelisahan tidak setiap detik atau hari sang warta pembawa berita untuk di ketahui ramai di jadikan bahan perdebatan oleh sang ulung dalam menyampaikan analisanya dan komentarnya yang ujungnya membingungkan sipenyimak.
Ditulis pada Umum


